Login


Menu


Statistik


QR Code


Profil Alumni: Nurul Aprianingsih

Post By Admin on 2016-11-06 13:02:22

Namanya Nurul Aprianingsih alumni Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo angkatan 2011 dan lulus pada tahun 2015. Lulus dari kampus tercinta ini menantikan kabar pembukaan pendaftaran SM3T. Bagaimana tidak ingin ikut SM3T? Iming-iming mengabdi dan dapat Pendidikan Profesi Guru (PPG) dibiayai oleh Negara, kabar itu adalah bagaikan hembusan angin yang menyejukkan hati para “;pengabdi pendidikan” tetapi hal terbesar yang memotivasi saya ikut SM3T adalah ingin keluar dari “zona aman“. Pada bulan April 2016 sempat mengajar di salah satu SMK di Purworejo sampai pada akhirnya pada bulan Agustus fix dibuka pendaftaran SM3T walaupun sempat terdengar simpang siur tentang ada/ tidaknya pendaftaran SM3T angkatan VI ini.  Tahap pertama yaitu tahap seleksi administrasi yaitu upload berkas-berkas yang ditentukan seperti: scan ijazah terakhir, scan transkip nilai dan pas foto. Alhamdulillah saya lolos. Tahap selanjutnya adalah tahap tes online sesuai program studi. Ya, soal lumayan mudah tetapi kebetulan saya belajarnya kurang. Tipe soal seperti olimpiade SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Alhamdulilah lolos lagi. Teman-teman seperjuangan banyak yang gugur di tahap ini ?.Walau bagaimanapun, perjuanganku tetap harus berlanjut. Tahap ketiga adalah tahap wawancara. Pada tahap ini, semua yang lolos pada tahap dua diberikan beberapa pertanyaan mengenai SM3T, kegiatan selama kuliah, kegiatan setelah lulus dan lain-lain. Dan sampailah saya di tahap keempat yaitu prakondisi di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta. Pengalaman yang luar biasa bagi saya bias masuk dan ikut pelatihan di AAU ini dengan ditempa oleh para Pembina dan pelatih. Alhamdulillah dari sekian tahapan, saya lolos sehingga dinyatakan sebagai peserta SM3T Angkatan VI.
Pembagian wilayah penempatan diumumkan sehari sebelum prakondisi. Saya ditempatkan di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Saat prakondisi saya membayangkan suasana di NTT ?. Alhasil pada tanggal 4 September 2016 saya dan teman-teman sepenempatan berangkat dari bandara menuju NTT dengan transit di Surabaya. Tibalah saya di bandara Kupang. Perjalanan dari Kupang ke Malaka sekitar 8 jam menggunakan travel yang sudah disediakan. Sampailah kami di penginapan di Kabupaten Malaka. Keesokan harinya saya beserta rombongan menuju kantor dinas pendidikan di Kabupaten Malaka yang dilanjut ke Kantor Bupati untuk mendengarkan dan mendapatkan SK Bupati mengenai penempatan. Satu persatu nama dipanggil dan akhirnya disebutlah nama saya. Saya ditempatkan di SMP Negeri Fatukoan, Kecamatan Rinhat. Semua yang ada di ruangan sontak ramai. Setelah saya Tanya, ternyata Rinhat adalah salah satu kecamatan yang paling sulit dijangkau. Haha benar saja. Saya menuju tempat sasaran menggunakan oto—sejenis mobil bak terbuka yang dimodifikasi dengan atap ditutup terpal dan ada beberapa kayu sebagai tempat duduk--. Jalan menuju tempat sasaran penuh dengan gonjangan karena medan yang mendaki dan belum aspal yang  terdiri dari batu lepas. “Ya Alloh” pikiran saya kemana-mana. Alhamdulillah saya sampai di rumah Bapak Kepala Sekolah. Saya sampai sekarang tinggal dengan keluarga Bapak Kepala SMP N Fatukoan yaitu Bapak Fransiskus Seran, S.Ag., yang juga mengajar agama Katholik di sekolah.
Mayoritas penduduk NTT adalah Katholik. Saya berada di lingkungan Katholik yang kental tetapi tinggi tingkat toleransinya. Hari pertama saya diberi pengalaman menyembelih dua ayam sekaligus, ini adalah pengalaman pertama saya. Setiap rumah memiliki lebih dari satu anjing. Kebetulan di rumah bapak Kepsek ada sekitar ±10 ekor anjing. Tentu saja saya harus menyesuaikan to. Di SMP Negeri Fatukoan guru matematika sudah banyak yaitu terdiri dari 5 orang guru dari 9 rombel. Alhasil saya hanya mengajar matematika di satu kelas saja dan mengajar IPA di tiga kelas yaitu kelas 9A, 9B dan 9C. Bahasa di sini ada 3 yaitu Bahasa Tetun, Bahasa Dawan dan Bahasa Bunaq. Mayoritas penduduk kota menggunakan Bahasa Tetun sedangkan daerah saya menggunakan Bahsa Dawan tetapi untuk bahasa yang digunakan di sekolah tetap Bahasa Indonesia dengan logat orang timur punya. “Ha lai” artinya makan dulu. “Mai Ha lai” artinya mari makan dulu.
Jangan Tanya pendidikan di sini. Karena pendidikan di sini memang masih memprihatinkan. Semangat belajar peserta didik di sini kurang dan jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh. Jadi sampai sekolah, anak-anak sudah kelelahan. Mereka sebenarnya pandai tetapi kebanyakan mereka belum mengerti arti pendidikan bagi mereka di kemudian hari sehingga motivasi belajar kurang. Di sinilah kami para SM3T harus melakukan perubahan sebagai pelita dalam remang-remang bahkan kegelapan di tanah timor ini. Saya dan teman-teman merasakan kurangnya sumber ajar dan sumber bacaan bagi anak sehingga ini menjadi kendala bagi kami di sini. Untuk perangkat pembelajaran pun kami harus tulis tangan karena printer hanya ada satu disimpan di sekolah kadang disimpan di rumah Kepala Sekolah untuk keamanan. Fotokopi dan kertas mahal, teman-teman guru di sini juga dianjurkan untuk tulis tangan semua perangkat pembelajaran. Orang timor adalah orang yang tangguh, pekerja keras, dan terkenal sebagai orang yang keras. Jadi jangan bandingkan saya yang orang Jawa dengan orang timor. Dalam memberikan pelajaran pun saya mempunyai style yang berbeda. “Ibu Nurul harus lebih “keras” lagi mengajarnya.”Itu pendapat beberapa guru di sini.